Belum genap seminggu kok rasanya waktu berjalan lambat, ditambah lagi dengan berbagai permasalahan yang membuat hari-hari terasa ruwet dan bikin tambah panas perasaan. Atau mungkin hanya perasaan saya saja yang menambah berat beban perasaan yang sudah ada. Jadi nggak nyaman deh berhubungan dengan orang lain karena takut nggak bisa ngontrol emosi ujung-ujungnya jadi sengak dan nggak ngenakin buat diajakin ngobrol.
Pengen cepat berlalu nih minggu ini. Biar bisa menghapus segala ketidaknyamanan yang pernah terjadi. Dimana ya rasa sabar yang selama beberapa waktu yang lalu masih ada dan selalu terjaga??? Rasanya terlalu cepat rasa itu pergi. Semoga saja esok hari bisa lebih baik dan tak ada orang lain yang tersakiti. Tolong kembalikan sabar ku.... Yang selama ini sudah ku jaga....
Tulisan tentang kehidupan dan aspek-aspek yang menarik untuk diceritakan kepada orang lain. Dan satu inspirasi untuk lebih menghargai hidup dan Sang Pencipta.
Kamis, Februari 04, 2010
Sabtu, Januari 02, 2010
Wirausaha
Pagi ini adik minta tolong untuk dicarikan investor yang bisa memberikan suntikan dana via internet. Usaha yang sedang dikerjakan sih berkaitan dengan pemanfaatan lahan yang terlantar di daerah Kenongo Kecamatan Gucialit. Beberapa waktu yang lalu katanya juga ada yang berminat tetapi sayang tidak ditemukan kata sepakat. Harapannya sih nanti ada yang berminat dan menjalin kerjasama yang saling menguntungkan (untuk investor dan para penggarap lahan). Untuk lebih detailnya tentang penggarapan lahan akan lebih baik juka berhubungan langsung dengan kelompok kerja yang bersangkutan.
Kamis, Desember 03, 2009
Balada...
Ketika pengumuman penerimaan CPNS lewat jalur tes diumumkan dan banyak juga teman-teman yang diterima. Saya merasa senang (dan cemburu, sambil bertanya kapan ya saya punya kesempatan seperti mereka??). Akhirnya apa yang diinginkan sudah satu langkah digenggaman. Saya juga sadar bahwa tidak semua yang kita inginkan bisa saya dapatkan (dengan mudah tentunya). Harus banyak fase yang harus dilalui, karena tidak semuanya beruntung bisa mendapatkan itu dengan hanya satu proses saja. Mungkin mereka bolak-balik mengikuti seleksi (dengan semangat yang pantang menyerah dan saya akan copy paste semangat ini) dan setelah melewati proses yang bisa dibilang tidak singkat akhirnya perjuangan itu membuahkan hasil.
Bekerja dekat dengan keluarga dengan jam kerja yang sudah fixed merupakan privilege (buat saya). Apalagi kalau sudah berkeluarga. Dan saya yakin meskipun yang masih single juga merasakan hal yang sama. Tapi apakah saya juga pernah memikirkan (mungkin) teman-teman saya juga mengatakan hal yang sama tentang pekerjaan saya sekarang. Hidup memang seperti dua sisi mata uang, sisi yang satu melihat sisi yang lain sepertinya lebih enak. Sedang sisi yang lain juga memiliki pemikiran yang demikian.
Mungkin belum saatnya saya seperti mereka (batin saya berkata sekedar untuk menghibur diri agar lebih bisa bersabar). Atau mungkin itu bukan rejeki saya sehingga Yang Maha Kuasa memiliki rencana lain yang lebih indah (rasionalisasi lain untuk bisa membuat saya tetap bersabar).
Bekerja dekat dengan keluarga dengan jam kerja yang sudah fixed merupakan privilege (buat saya). Apalagi kalau sudah berkeluarga. Dan saya yakin meskipun yang masih single juga merasakan hal yang sama. Tapi apakah saya juga pernah memikirkan (mungkin) teman-teman saya juga mengatakan hal yang sama tentang pekerjaan saya sekarang. Hidup memang seperti dua sisi mata uang, sisi yang satu melihat sisi yang lain sepertinya lebih enak. Sedang sisi yang lain juga memiliki pemikiran yang demikian.
Mungkin belum saatnya saya seperti mereka (batin saya berkata sekedar untuk menghibur diri agar lebih bisa bersabar). Atau mungkin itu bukan rejeki saya sehingga Yang Maha Kuasa memiliki rencana lain yang lebih indah (rasionalisasi lain untuk bisa membuat saya tetap bersabar).
Selasa, November 03, 2009
Ikhlas
Ada yang hilang saat harus berlebaran jauh dari sanak famili. Acara ngumpul dengan saudara-saudara di rumah Nenek (dari Bapak) serta suara ramai dari ponakan yang jumlahnya lebih dari selusin. Saya kehilangan momen itu, walaupun mereka sempat berbicara lewat telepon tetapi atmosfernya sudah beda. Walhasil, harus nyempetin bersilahturahmi satu minggu setelah lebaran (alhamdulillah kue2 lebaran masih ada he..he...). Saya terpaksa harus bersilahturahmi sendiri karena jatah libur istri sudah habis (dari pada nganggur dirumah). Saya memutuskan untuk bersilahturahmi ke rumah Bulik (yang kebetulan Paklik juga pesen madu jadi sekalian mengantarkan pesanan). Bulik saya ini merupakan "tante favorite" bagi semua ponakan-ponakan, pokoknya gaul abis. Rasanya nggak ada yang nggak menarik kalau beliau sedang bercerita. Dari mulai masa muda pas waktu SMA sampai gimana serunya reunian dengan teman-teman SMA nya. Semuanya diceritain.
Walaupun saya tahu, Bulik saya ini nampak kurus dan sedang berjuang dari penyakit gula yang dideritanya. Tetapi ketegarannya dalam menghadapi segala "ujian" hidup membuat saya jadi salut. Kebetulan Bulik saya ini membuka toko kecil didepan rumahnya. Bulik saya mengatakan bahwa penghasilan dari membuka toko, alhamdulillah bisa membantu keuangan meski tidak banyak. Bulik saya tidak pernah khawatir walaupun sudah beberapa bulan tidak mendapatkan jatah minyak tanah untuk dijual. Ketika itu Bulik saya bilang, "wis Le, ora usah ngoyo, Gusti Allah wes maringi rejeki dhewe-dhewe. Yen saiki ora oleh jatah lengo gas ora opo-opo. Alhamdulillah, rejekine teko soko Paklik mu. Saiki dhuwe bisnis sampingan."
Saya jadi berpikir, kadang saya ngerasa "panas hati" melihat keberhasilan orang lain. Dengan penghasilan yang lebih besar dan dengan segala "privilege" yang didapat. Apalagi mendengar komentar-komentar "yang kurang bersahabat" dari apa yang saya kerjakan membuat suasana semakin "tidak nyaman". Saya belajar dari Bulik bahwa semua sudah ada jatahnya, nggak perlu menghalalkan segala cara untuk meraih sesuatu. Berusaha memang harus, kan Allah tidak akan merubah suatu kaum jika mereka tidak mau merubah nasibnya sendiri (baca berusaha). Kalau memang itu sudah menjadi rejeki kita, insya Allah selalu ada jalan untuk dipertemukan dengan kita.
Adakalanya kita juga harus melihat ke bawah agar kita selalu ingat untuk bersyukur atas semua yang telah diberikan Nya kepada kita. Agar kita ingat bahwa masih ada saudara-saudara kita yang lebih "berat" hidupnya dan membutuhkan uluran tangan kita. Saya jadi berpikir, seandainya saja semua saudara-saudara saya sadar untuk menyisihkan dua setengah persen saja dari penghasilannya, insya Allah masalah ini bisa mendapatkan jalan keluar. Bukan hanya berangan-angan untuk memiliki benda-benda keduniaan saja tetapi mulai berpikir apa yang bisa kita lakukan untuk menolong saudara-saudara kita yang lain. Mungkin kita bisa mengganti kalimat "kapan ya bisa beli mobil?" menjadi "kapan ya bisa membantu anak yatim piatu", misalnya. Tentu saja bukan hanya sekedar pertanyaan saja, kita harus termotivasi untuk merealisasikan hal tersebut. Insya Allah, akan lebih membawa "ketenangan" dalam menjalani hidup. Mengingat hal-hal duniawi tidak akan pernah ada habisnya.
Alhamdulillah, meski tidak banyak dan tidak bisa memiliki barang-barang "lux" tetapi masih cukup untuk kebutuhan hidup sehari-hari. Dan syukur-syukur masih bisa berbagi dengan yang lain. Hal ini membuat saya terpacu untuk selalu ikhlas dalam mengerjakan sesuatu. Saya ingat perkataan teman saya, kalau kita tidak bisa mendapatkan sesuatu dari sisi duniawi insya Allah dengan keikhlasan kita untuk melakukan pekerjaan itu kita bisa mendapatkan nilai tambah di akhirat nanti. Amin
Walaupun saya tahu, Bulik saya ini nampak kurus dan sedang berjuang dari penyakit gula yang dideritanya. Tetapi ketegarannya dalam menghadapi segala "ujian" hidup membuat saya jadi salut. Kebetulan Bulik saya ini membuka toko kecil didepan rumahnya. Bulik saya mengatakan bahwa penghasilan dari membuka toko, alhamdulillah bisa membantu keuangan meski tidak banyak. Bulik saya tidak pernah khawatir walaupun sudah beberapa bulan tidak mendapatkan jatah minyak tanah untuk dijual. Ketika itu Bulik saya bilang, "wis Le, ora usah ngoyo, Gusti Allah wes maringi rejeki dhewe-dhewe. Yen saiki ora oleh jatah lengo gas ora opo-opo. Alhamdulillah, rejekine teko soko Paklik mu. Saiki dhuwe bisnis sampingan."
Saya jadi berpikir, kadang saya ngerasa "panas hati" melihat keberhasilan orang lain. Dengan penghasilan yang lebih besar dan dengan segala "privilege" yang didapat. Apalagi mendengar komentar-komentar "yang kurang bersahabat" dari apa yang saya kerjakan membuat suasana semakin "tidak nyaman". Saya belajar dari Bulik bahwa semua sudah ada jatahnya, nggak perlu menghalalkan segala cara untuk meraih sesuatu. Berusaha memang harus, kan Allah tidak akan merubah suatu kaum jika mereka tidak mau merubah nasibnya sendiri (baca berusaha). Kalau memang itu sudah menjadi rejeki kita, insya Allah selalu ada jalan untuk dipertemukan dengan kita.
Adakalanya kita juga harus melihat ke bawah agar kita selalu ingat untuk bersyukur atas semua yang telah diberikan Nya kepada kita. Agar kita ingat bahwa masih ada saudara-saudara kita yang lebih "berat" hidupnya dan membutuhkan uluran tangan kita. Saya jadi berpikir, seandainya saja semua saudara-saudara saya sadar untuk menyisihkan dua setengah persen saja dari penghasilannya, insya Allah masalah ini bisa mendapatkan jalan keluar. Bukan hanya berangan-angan untuk memiliki benda-benda keduniaan saja tetapi mulai berpikir apa yang bisa kita lakukan untuk menolong saudara-saudara kita yang lain. Mungkin kita bisa mengganti kalimat "kapan ya bisa beli mobil?" menjadi "kapan ya bisa membantu anak yatim piatu", misalnya. Tentu saja bukan hanya sekedar pertanyaan saja, kita harus termotivasi untuk merealisasikan hal tersebut. Insya Allah, akan lebih membawa "ketenangan" dalam menjalani hidup. Mengingat hal-hal duniawi tidak akan pernah ada habisnya.
Alhamdulillah, meski tidak banyak dan tidak bisa memiliki barang-barang "lux" tetapi masih cukup untuk kebutuhan hidup sehari-hari. Dan syukur-syukur masih bisa berbagi dengan yang lain. Hal ini membuat saya terpacu untuk selalu ikhlas dalam mengerjakan sesuatu. Saya ingat perkataan teman saya, kalau kita tidak bisa mendapatkan sesuatu dari sisi duniawi insya Allah dengan keikhlasan kita untuk melakukan pekerjaan itu kita bisa mendapatkan nilai tambah di akhirat nanti. Amin
Senin, Oktober 26, 2009
Ambil Buahnya Kembalikan Bungkusnya
Kata-kata ini saya dapatkan didekat camp yang sering saya lewati saat pergi ke toko. Awalnya tidak ada yang aneh dari kata-kata tersebut lalu tiba-tiba teman-teman saya mulai jahil dalam mengartikannya. Kalimat tersebut saya temukan menggantung di pohon jambu yang sedang berbuah (lumayan banyak) dan setiap buahnya dibungkus oleh plastik (mungkin untuk menghindari agar tidak dirusak oleh serangga). Dan sang empunya jambu dengan baik hatinya mempersilahkan buat siapa saja yang ingin merasakan jambunya untuk bisa mengambilnya tetapi pembungkus plastik buah tersebut harus dikembalikan lagi ke tempatnya (jangan dibuang). Mungkin karena susah banget untuk mencari pembungkus plastik tersebut atau karena banyaknya orang iseng yang sedang lewat dan sering membuka bungkus buah tersebut hanya sekedar "mengintip" apakah buah jambu tersebut sudah ranum atau masih mentah. Dan robeklah plastik tersebut dan hanya menyisakan pembungkus yang sudah tidak berbentuk lagi karena bagian-bagian dari buah jambu tersebut sudak ter expose. Dan tiba-tiba teman saya nyelutuk, "Saya mau kalau ada yang memberikan buah walaupun bungkusnya harus dikembalikan. Gak pa2 kok". Kita semua saling berpandangan dan nyengir sama-sama. Dan ada temen yang menimpali, "Buat lo ada tapi Buatu dan harus ditelen bulet-bulet:. He..he....
Fenomena Facebook memang sedang marak, malah orang akan memandang aneh kalau kita tidak mengenal apa yang namanya facebook (sebagian orang membacanya Pacebook he..he...). Kemarin sore (sebelum berangkat kerja) saya ditunjukkan oleh teman kalau ada memo dari perusahaan tempat saya bekerja agar dilarang membuka facebook dan mempublikasikan hal-hal apapun tentang perusahaan dalam situs jejaring sosial itu. Memang sih harusnya kita bisa mengerem mana yang perlu di publish atau tidak distatus kita. Ya intinya adalah kita harus bisa mengendalikan atau menyaring tepatnya mana yang perlu diketahui orang lain atau hanya cukup kita saja yang mengetahuinya.
Apalagi kalau yang membaca status kita adalah orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Yang (mungkin) nantinya bakal "menjual" cerita kita ke orang lain untuk kepentingan pribadinya. Walaupun secara tidak langsung ketika kita menuliskan sesuatu di status kita, kita berharap (atau mengharapkan) orang lain tahu dan berbondong-bondong untuk memberikan komentar. Kita tidak tahu mana dari teman kita yang tanpa tendensi apapun membaca dan mengomentari apa yang telah kita tulis. Memang sulit untuk ditelusuri, seandainya saja ada test sebelum kita approve seseorang tersebut agar kita ketahui personality nya (dijamin bakal males orang-orang untuk jadi teman kita karena prosedur yang ribet seperti tes dalam mendapatkan pekerjaan).
Dan tindakan yang paling ekstrem adalah me remove teman yang dianggap "tidak kita kenal" atau sengaja "tidak ingin berhubungan dengan orang ini". Di remove merupakan resiko yang harus ditanggung dalam menggunakan situs jejaring sosial. Kalau kita sudah dianggap memberikan satu ancaman atau berbuat yang aneh-aneh ya nggak "aneh" kalau kita bakal dieliminasi oleh sang empunya account. Ini pelajaran buat kita untuk bisa lebih dewasa dalam memutuskan sesuatu. Karena kita tidak tahu informasi itu bakal disalahgunakan atau tidak. Karena semua kemungkina bisa saja terjadi dalam dunia maya. Jadi kita harus waspada. So waspadalah...waspadalah.... (mengutip perkataan Bang Napi yang beken itu)
Apalagi kalau yang membaca status kita adalah orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Yang (mungkin) nantinya bakal "menjual" cerita kita ke orang lain untuk kepentingan pribadinya. Walaupun secara tidak langsung ketika kita menuliskan sesuatu di status kita, kita berharap (atau mengharapkan) orang lain tahu dan berbondong-bondong untuk memberikan komentar. Kita tidak tahu mana dari teman kita yang tanpa tendensi apapun membaca dan mengomentari apa yang telah kita tulis. Memang sulit untuk ditelusuri, seandainya saja ada test sebelum kita approve seseorang tersebut agar kita ketahui personality nya (dijamin bakal males orang-orang untuk jadi teman kita karena prosedur yang ribet seperti tes dalam mendapatkan pekerjaan).
Dan tindakan yang paling ekstrem adalah me remove teman yang dianggap "tidak kita kenal" atau sengaja "tidak ingin berhubungan dengan orang ini". Di remove merupakan resiko yang harus ditanggung dalam menggunakan situs jejaring sosial. Kalau kita sudah dianggap memberikan satu ancaman atau berbuat yang aneh-aneh ya nggak "aneh" kalau kita bakal dieliminasi oleh sang empunya account. Ini pelajaran buat kita untuk bisa lebih dewasa dalam memutuskan sesuatu. Karena kita tidak tahu informasi itu bakal disalahgunakan atau tidak. Karena semua kemungkina bisa saja terjadi dalam dunia maya. Jadi kita harus waspada. So waspadalah...waspadalah.... (mengutip perkataan Bang Napi yang beken itu)
Silaturahmi
Alhamdulilla, sepertinya apa yang saya inginkan selalu diberikan olehNya. Seperti setelah saya menulis segala kenangan saya sewaktu masih di White Campus dan alhamdulillah beberapa hari kemudian ada teman saya (jauh banget, dari Jepara Jawa Tengah) menelpon saya. Padahal, itu tidak disengaja. Dia menelpon teman saya yang ada di Bondowoso dan dapatlah nomor telpon saya. Jadilah selama lebih kurang dua jam kita ngobrol ngalor kidul tentang kenangan kita selama di asrama dan tentang hidup kita masing-masing (tentu saja kita saling menguatkan). Dan Alhamdulillah (sekali lagi) banyak banget yang bisa saya dapatkan dari dia (dengan segala pemikiran yang bener2 diluar dugaan). Ternyata anak-anak kecil itu sudah tumbuh menjadi dewasa dengan segala tempaan hidup yang telah dihadapi. Berharap semoga kita bisa bertatap muka dengan membawa "pasukan" masing-masing dan berjanji untuk terus bertukar kabar satu sama lain. Terima kasih sudah memberikan "jalan" ditengah keruwetan yang ada. Masih banyak teman-teman saya yang belum bisa saya ketahui kabarnya dan juga keberadaannya. Semoga saja kalian baik-baik saja disana.
Ternyata seiring dengan berjalannya waktu jalinan pertemanan ini semakin unik. Layaknya sebuah karya seni yang berharga mahal. Tinggal kita saja yang harus pintar dalam merawat sebuah "karya seni" tersebut. Kita memang sibuk dengan kegiatan masing-masing tetapi insya Allah doa kita akan selalu ada untuk semua. Amin.....
Ternyata seiring dengan berjalannya waktu jalinan pertemanan ini semakin unik. Layaknya sebuah karya seni yang berharga mahal. Tinggal kita saja yang harus pintar dalam merawat sebuah "karya seni" tersebut. Kita memang sibuk dengan kegiatan masing-masing tetapi insya Allah doa kita akan selalu ada untuk semua. Amin.....
Realize
Susah sekali untuk bisa membuat bahasa ini terdengar lebih manis untuk didengar oleh orang lain. Apalagi jika hati ini sedang panas, rasanya kok gatal banget kalau nggak nyelutuk ya... Masih jauh dari kata berhasil untuk bisa mengatur segala perkataan ini. Memang benar kalau menjadi pendengar yang baik itu bukan perkara yang mudah. Perasaan rasanya pengen banget memberikan komentar terhadap apa yang kita lihat dan dengar. Kadang cuman bisa menghela nafas panjang karena mulut ini sudah tidak terkontrol lagi dalam mengeluarkan kata-kata. Penyesalan selalu terjadi dibelakang. Kadang kita merasa tidak nyaman kalau sedang menderita stomatitis karena mulut ini terasa nyeri untuk makan ataupun untuk berkata-kata. Mungkin ini peringatan bagi kita bahwa "nyeri" ini lah yang dirasakan oleh orang lain ketika mengeluarkan kata-kata yang kasar.
Jumat, Oktober 02, 2009
Never feel enough
Kemarin pagi nampak kerumunan orang, bukan karena demo melainkan mereka sedang mengantri untuk mendaftar menjadi pegawai pemerintah. Jumlah yang tidak sedikit ditengah guyuran hujan di pagi hari, ratusan mungkin ribuan para pelamar yang mencoba keberuntungan. Bukan hanya orang biasa-biasa saja yang mengantri tetapi banyak orang yang "berpunya" juga ikut mengadu keberuntungan. Nampak dari mobil-mobil yang diparkir dan handphone keluaran terkini yang ada digenggaman. Ternyata, menjadi seorang pegawai pemerintah masih merupakan impian untuk banyak orang. Miris, melihat dilain sisi mereka yang sudah menjadi pegawai pemerintah mengeluh tentang fasilitas yang ada. Harusnya mereka bersyukur dengan apa yang dimiliki, tanpa harus mengantri untuk sekedar daftar dan kemudian tes (yang belum tentu bisa dinyatakan lulus). Semoga saja ini hanya sekedar keluh kesah tanpa ada rembetan peristiwa yang lain.
Sedih, melihat mereka yang bekerja ogah-ogahan dengan alasan income yang tidak cukup. Pegawai pemerintah adalah pelayan masyarakat, bukannya malah masyarakat yang harus melayani mereka. Sedih banget, melihat saudara-saudara yang bermodalkan JAMKESMAS diperlakukan semena-mena. Jujur, saya tidak terima. Mereka bukannya tidak membayar tetapi mereka mendapatkan fasilitas tersebut dari pajak yang sudah kita bayarkan. Bukannya dari awal kita sudah ditekankan bahwa manusia itu sama dihadapan Nya.
Sedari awal memang niat harus diluruskan, ketika kita sudah memutuskan bahwa setiap pilihan sudah pasti memiliki konsekuensi. Kalau baru saat ini kita komplain, lha yang kemarin kemana aja?? Apakah benar gaji tidak cukup??? Atau hanya kita aja yang "kurang pintar" mengatur keuangan. Bisa membayar biaya sekolah anak, operasional hidup sehari-hari atau bahkan bisa membayar cicilan rumah atau pun kendaraan itu sudah merupakan suatu berkah. Banyak sekali orang-orang yang tidak seberuntung kita. Memang deskripsi "cukup" tidak sama untuk setiap orang. Tapi tolong jangan hanya melihat keatas agar langkah kaki kita masih bisa berpijak di bumi Nya. Bapak saya juga bekerja sebagai pelayan masyarakat, alhamdulillah masih bisa mengirimkan ketiga anaknya untuk mengenyam pendidikan dibangku kuliah. Rejeki sudah ada yang mengatur, selama kita termasuk dalam hamba-hamba Nya yang bersyukur insya Allah rejeki datang dari arah-arah yang tidak terduga.
Anda-anda beruntung telah terpilih untuk menjadi pegawai pemerintah. Dan semoga saja bisa terbuka hatinya untuk terus menjadi pelayan masyarakat. Kalau memang berorientasi dengan income yang lebih, mungkin lebih baik dari sekarang anda melangkah ke pintu lain yang bisa memberikan anda income yang lebih dari sekedar seorang "pelayan". Untuk teman-teman yang sedang berjuang untuk menjadi "pelayan" semoga dengan segala macam struggling moment bisa menjadi lebih bisa menghargai apa yang telah diraih. Dan bisa memberikan yang terbaik untuk masyarakat. Jangan pernah lupakan perjalanan panjang dan melelahkan untuk bisa meraih itu.
Sedih, melihat mereka yang bekerja ogah-ogahan dengan alasan income yang tidak cukup. Pegawai pemerintah adalah pelayan masyarakat, bukannya malah masyarakat yang harus melayani mereka. Sedih banget, melihat saudara-saudara yang bermodalkan JAMKESMAS diperlakukan semena-mena. Jujur, saya tidak terima. Mereka bukannya tidak membayar tetapi mereka mendapatkan fasilitas tersebut dari pajak yang sudah kita bayarkan. Bukannya dari awal kita sudah ditekankan bahwa manusia itu sama dihadapan Nya.
Sedari awal memang niat harus diluruskan, ketika kita sudah memutuskan bahwa setiap pilihan sudah pasti memiliki konsekuensi. Kalau baru saat ini kita komplain, lha yang kemarin kemana aja?? Apakah benar gaji tidak cukup??? Atau hanya kita aja yang "kurang pintar" mengatur keuangan. Bisa membayar biaya sekolah anak, operasional hidup sehari-hari atau bahkan bisa membayar cicilan rumah atau pun kendaraan itu sudah merupakan suatu berkah. Banyak sekali orang-orang yang tidak seberuntung kita. Memang deskripsi "cukup" tidak sama untuk setiap orang. Tapi tolong jangan hanya melihat keatas agar langkah kaki kita masih bisa berpijak di bumi Nya. Bapak saya juga bekerja sebagai pelayan masyarakat, alhamdulillah masih bisa mengirimkan ketiga anaknya untuk mengenyam pendidikan dibangku kuliah. Rejeki sudah ada yang mengatur, selama kita termasuk dalam hamba-hamba Nya yang bersyukur insya Allah rejeki datang dari arah-arah yang tidak terduga.
Anda-anda beruntung telah terpilih untuk menjadi pegawai pemerintah. Dan semoga saja bisa terbuka hatinya untuk terus menjadi pelayan masyarakat. Kalau memang berorientasi dengan income yang lebih, mungkin lebih baik dari sekarang anda melangkah ke pintu lain yang bisa memberikan anda income yang lebih dari sekedar seorang "pelayan". Untuk teman-teman yang sedang berjuang untuk menjadi "pelayan" semoga dengan segala macam struggling moment bisa menjadi lebih bisa menghargai apa yang telah diraih. Dan bisa memberikan yang terbaik untuk masyarakat. Jangan pernah lupakan perjalanan panjang dan melelahkan untuk bisa meraih itu.
Sabtu, Juli 18, 2009
Doaku
Kadang saya merasa terlalu banyak mengeluh tentang ini atau itu lah. Padahal sebenarnya banyak sekali nikmat yang telah diberikan Allah buat saya. Tetapi saya masih saja mencari sesuatu yang belum bisa saya genggam. Padahal mungkin saya tidak memerlukan hal itu. Allah, tolong jangan biarkan hamba menjauh karena silau oleh kebutuhan duniawi....
Langganan:
Postingan (Atom)